![]() |
| Gambar : Logo Pemuda Jong Batak |
Jakarta, Lidinews — Pemuda Jong Batak menyampaikan apresiasi terhadap langkah Eriko Silaban yang menginisiasi dan mengusulkan Fredrich Silaban sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Inisiatif tersebut dinilai penting sebagai upaya mengenang dan menghargai pengabdian seorang putra bangsa yang telah memberikan karya bagi Indonesia.
Ketua Pemuda Jong Batak, Ganda M. Sihite, mengatakan bahwa perjalanan bangsa tidak hanya dibentuk oleh mereka yang berada di ruang politik maupun medan perjuangan, tetapi juga oleh orang-orang yang mengabdikan pengetahuan, keahlian, dan profesinya untuk membangun negeri.
“Sejarah Indonesia lahir dari berbagai bentuk pengabdian. Ada yang berjuang melalui politik, ada yang melalui perjuangan fisik, dan ada pula yang membangun melalui ilmu pengetahuan serta profesinya. Fredrich Silaban menunjukkan bahwa arsitektur juga dapat menjadi jalan pengabdian kepada negara,” ujar Ganda.
Fredrich Silaban merupakan salah satu tokoh dalam perkembangan arsitektur Indonesia pada masa awal Republik. Karya-karyanya menjadi bagian dari wajah Indonesia, termasuk Masjid Istiqlal serta keterlibatannya dalam perancangan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.
Menurut Ganda, nilai sebuah karya tidak berhenti pada bentuk fisiknya. Bangunan yang hadir dan digunakan lintas generasi dapat merekam gagasan, cita-cita, dan semangat suatu zaman.
“Bangunan bukan hanya persoalan ruang dan bentuk. Di dalamnya terdapat gagasan mengenai masyarakat dan bangsa yang ingin dibangun pada masanya. Ketika sebuah karya terus hadir dalam kehidupan publik, karya itu menjadi bagian dari memori kolektif dan merekam perjalanan bangsa,” kata Ganda.
Bagi Pemuda Jong Batak, memori kolektif merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan sejarah. Sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui kemampuan untuk mengenali, mengingat, dan menghargai orang-orang yang telah memberikan sumbangsih dalam proses pembentukannya.
“Bung Karno pernah mengingatkan melalui Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Pesan itu bukan hanya tentang mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga tentang menghargai orang-orang yang telah memberikan pengabdian pada zamannya. Ketika kita mengenali siapa yang berada di balik sebuah karya, kita sedang menjaga agar bagian dari perjalanan bangsa tidak terputus dari ingatan generasi berikutnya,” ujar Ganda.
Karena itu, menurut Ganda, penghormatan kepada Fredrich Silaban tidak hanya berkaitan dengan profesinya sebagai arsitek, tetapi juga dengan pengakuan terhadap bentuk pengabdian melalui keahlian yang telah memberikan manfaat bagi bangsa.
“Negara harus menghargai anak bangsa yang telah memberikan kemampuan terbaiknya untuk Indonesia. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional merupakan salah satu bentuk penghormatan negara terhadap jasa seseorang yang memiliki arti bagi perjalanan bangsa. Karena itu, jasa, pengabdian, dan karya Fredrich Silaban patut menjadi dasar untuk dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional,” tegas Ganda.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Pemuda Jong Batak mendukung penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada Fredrich Silaban. Dukungan ini juga menjadi bagian dari upaya menempatkan pengabdian Fredrich Silaban dalam narasi sejarah pembangunan Indonesia dan memori kolektif bangsa.
Sebagai sesama putera Humbang Hasundutan, Ganda menilai masyarakat perlu saling mendukung setiap langkah baik yang dilakukan untuk mengenang dan menghargai anak bangsa.
“Sebagai sesama putera Humbang Hasundutan, kita harus saling mendukung langkah-langkah baik untuk menghormati jasa dan karya anak bangsa. Apa yang dilakukan Eriko Silaban merupakan ikhtiar untuk memastikan pengabdian Fredrich Silaban tetap dikenal dan memperoleh penghargaan yang layak,” ujar Ganda.
Menurut Ganda, kebanggaan terhadap seorang putra daerah memiliki makna yang lebih luas ketika pengabdiannya telah memberikan manfaat bagi Indonesia.
“Fredrich Silaban adalah putera Humbang Hasundutan yang karyanya telah menjadi bagian dari perjalanan Indonesia. Kebanggaan terhadap beliau bukan hanya karena dari mana beliau berasal, tetapi karena apa yang telah diberikan melalui ilmu, profesi, pemikiran, dan karya untuk bangsa,” lanjutnya.
Ganda menilai penghargaan terhadap Fredrich Silaban juga dapat menjadi pembelajaran bagi generasi muda bahwa pembangunan Indonesia merupakan proses lintas generasi yang lahir dari berbagai bidang pengabdian.
“Generasi muda perlu mengetahui bahwa membangun Indonesia adalah pekerjaan lintas generasi. Fredrich Silaban telah meninggalkan karya yang masih hadir dalam kehidupan kita hingga hari ini. Dari sana kita belajar bahwa sebuah pengabdian dapat melampaui usia seseorang dan tetap memberikan arti bagi bangsa,” tutup Ganda M. Sihite.
(Editor: HFH)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar