![]() |
| Gambar : Setia Pada Sumber Jalan Ideologis Bobby Surya. Lidinews |
Sumatera Utara, Medan, Lidinews - Sabtu, 21 Februari 2026. Satu tahun sejak dilantik pada 20 Februari 2025, kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution bersama Wakil Gubernur H. Surya patut dibaca tidak semata sebagai rentang waktu administratif, melainkan sebagai fase awal penegasan arah ideologis pembangunan daerah.
Bagi Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Sumatera Utara, satu tahun ini menunjukkan upaya membumikan prinsip “Setia kepada Sumber” sebuah pandangan ideologis yang menempatkan rakyat sebagai asal-muasal kekuasaan, orientasi kebijakan, sekaligus tujuan akhir pembangunan.
Pembangunan dalam perspektif ini tidak direduksi menjadi sekadar angka pertumbuhan, deretan proyek fisik, atau indikator statistik. Pembangunan harus diukur dari sejauh mana ia menghadirkan keadilan sosial dan membebaskan rakyat kecil dari belenggu ketimpangan struktural. Di titik inilah, pembangunan menemukan maknanya sebagai kerja ideologis, bukan semata kerja teknokratis.
GMNI Sumut memandang bahwa semangat “Setia kepada Sumber” menuntut negara untuk hadir secara nyata di ruang-ruang kehidupan kaum marhaen: di gang-gang sempit, di desa-desa yang lama terpinggirkan, di pasar-pasar tradisional, serta di lahan-lahan pertanian yang menjadi sandaran hidup rakyat kecil. Negara tidak boleh berdiri jauh di menara kekuasaan, melainkan harus membumi dalam denyut kehidupan rakyat.
“Sumber kekuatan kita adalah rakyat. Maka setiap kebijakan yang lahir harus bermuara pada kepentingan mereka yang selama ini terpinggirkan. Setia kepada sumber berarti setia pada jeritan dan harapan kaum marhaen,” tegas Kristianus Dachi, Wakil Ketua DPD GMNI Sumatera Utara.
Dalam satu tahun terakhir, GMNI Sumut mencatat adanya orientasi kebijakan yang mulai menyentuh kepentingan dasar rakyat, khususnya melalui pemberdayaan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi rakyat, perluasan akses layanan kesehatan agar kemiskinan tidak lagi menjadi penghalang untuk hidup sehat, serta perbaikan infrastruktur dasar yang menopang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
GMNI Sumut juga menilai bahwa kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara ditopang oleh prinsip hidup yang kuat, kesetiaan dan kerja keras sebagai modal moral dalam menjalankan mandat rakyat. Namun, dalam kerangka ideologis, modal tersebut harus terus dijaga agar tidak tergelincir ke dalam pragmatisme kekuasaan yang menjauh dari sumbernya.
Memasuki tahun kedua kepemimpinan, GMNI Sumut menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan normatif, melainkan harus menjadi ruh kebijakan publik. Prinsip keberpihakan kepada kaum marhaen sebagaimana terkandung dalam sila keadilan sosial harus menjadi jiwa dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di Sumatera Utara.
“Kami, bersama pemuda di Sumatera Utara, tidak mempersoalkan keterbatasan capaian dalam satu tahun kepemimpinan. Kami meyakini bahwa Gubernur Sumatera Utara memiliki prinsip keberpihakan yang jelas kepada sumber kekuatan bangsa, yakni rakyat. Tugas kita bersama adalah menjaga agar kesetiaan itu tetap lurus dan berpihak,” pungkas bung Dachi (nama sapaan)
"Bagi GMNI Sumut, refleksi satu tahun ini bukanlah penilaian akhir, melainkan pengingat ideologis bahwa kekuasaan hanya bermakna sejauh ia setia kepada sumbernya dan memuliakan rakyat kecil," tutup Bung Dachi.
Editor : Arjuna H T Munthe



Tidak ada komentar:
Posting Komentar