Iklan

terkini

Peringati 28 Tahun Reformasi, Cipayung Plus Kota Medan Turun ke Jalan: Menagih Keadilan HAM dan Kesejahteraan Rakyat

Sabtu, Mei 23, 2026 WIB Last Updated 2026-05-23T15:17:02Z

Gambar : Aksi Cipayung Kota Medan

Sumatera Utara, Medan, Lidinews - Dua puluh delapan tahun reformasi berlalu, namun jeritan keadilan masih terdengar dari lorong-lorong sejarah bangsa ini. Reformasi yang dahulu diperjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan mahasiswa serta rakyat Indonesia, hingga hari ini masih menyisakan banyak pertanyaan tentang keberpihakan negara terhadap rakyat kecil.


Atas dasar itu, organisasi mahasiswa GMNI, HMI, GMKI, IMM, PMKRI, HIMMAH, dan KAMMI yang tergabung dalam Cipayung Plus Kota Medan menyatakan sikap untuk turun ke jalan sebagai bentuk refleksi perjuangan reformasi sekaligus pengingat bahwa cita-cita reformasi belum sepenuhnya tercapai.


Gerakan turun kejalan ini tidak sekadar mengenang sejarah 1998, tetapi merupakan panggilan moral untuk terus menjaga api perjuangan rakyat demi menghadirkan keadilan sosial yang sesungguhnya.


Reformasi lahir dari rahim penderitaan rakyat dan keberanian mahasiswa dan rakyat melawan ketidakadilan. Namun hari ini, bangsa ini masih dibayangi oleh berbagai persoalan yang mencederai semangat reformasi itu sendiri. Kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu masih menggantung tanpa kepastian hukum yang adil. Hilangnya para aktivis 1998 menjadi luka sejarah yang belum benar-benar disembuhkan oleh negara. Bangsa yang besar tidak boleh melupakan sejarah perjuangan anak-anak bangsanya sendiri.


Di sisi lain, kondisi ekonomi rakyat juga semakin memprihatinkan. Ketika harga kebutuhan pokok terus naik, nilai rupiah melemah, lapangan pekerjaan semakin sulit, kemiskinan yang tinggi dan kesejahteraan rakyat terasa semakin jauh, maka reformasi harus kembali dimaknai sebagai perjuangan menghadirkan negara yang berpihak kepada rakyat kecil, bukan hanya kepada kepentingan elite dan pemilik modal.


Cipayung Plus Kota Medan memandang bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan sejarah untuk tetap menjadi kekuatan moral dan sosial di tengah kehidupan bangsa. Mahasiswa tidak boleh diam ketika rakyat menghadapi kesulitan hidup, ketika demokrasi mengalami kemunduran, dan ketika keadilan hanya menjadi slogan tanpa pelaksanaan nyata.


Momentum 28 Tahun Reformasi ini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Selama masih ada ketimpangan sosial, kemiskinan, pelanggaran HAM yang belum dituntaskan, dan kebijakan yang jauh dari kepentingan rakyat, maka semangat reformasi harus terus hidup di tengah masyarakat.


Gerakan turun ke jalan yang dilakukan Cipayung Plus Kota Medan adalah bentuk keberpihakan terhadap suara rakyat yang selama ini menuntut keadilan, kesejahteraan, dan masa depan bangsa yang lebih bermartabat. Reformasi tidak boleh kita maknai menjadi akar sejarah, tetapi harus terus menjadi arah perjuangan menuju Indonesia yang adil, demokratis, dan berdaulat atas kepentingan rakyatnya sendiri.




(Heri Faysal)

Komentar

Tampilkan

  • Peringati 28 Tahun Reformasi, Cipayung Plus Kota Medan Turun ke Jalan: Menagih Keadilan HAM dan Kesejahteraan Rakyat
  • 0

Tidak ada komentar:

Terkini